Antik Jawa Tengah

Antik Magelang

Antik Yogyakarta / DIY

Antik Surakarta / Solo

Antik Purwokerto

Antik Semarang

  • - Lonceng kuningan , berat estimasi 1,5 kg Tinggi 22 cm , Diameter alas 13.5cm terdapat tulisan dalam bahasa latin " vocem meam audi qui me tangit " yang ber...
    2 days ago
  • BUFFET MARMER BAMBU BAMBUAN - SEBUAH BUFFET MARMER BERMOTIF KHAS BAMBU BAMBUAN EROPA NAN INDAH TERBUAT DARI FULL KAYU JATI PERLU DIKETAUHI UNTUK MEMBUAT SEBUAH BAMBU BAMBUAN DIPE...
    3 days ago
  • Jambangan Oval China - *Pada umumnya koleksi jambangan China Peranakan seperti ini dimiliki oleh golongan kaya dan berpengaruh (ketokohan) sebagai parameter sekaligus mengekspre...
    1 week ago
  • Gilingan Kopi Sponge England - Gilingan kopi Sponge made in England dengan dudukan unik terbuat dari kayu jati T.82cm L.37cm
    3 weeks ago
  • Plang Djadoel 2 Bahasa - Plang Djadoel terbuat dari besi tebal dan cukup berat berukuran 35,5 X 10,5cm terdapat tulisan " DILARANG MASOEK " yang masih menggunakan ejaan lama dan ...
    3 weeks ago
  • - TEA SET SATSUMA SATU TEKO TEH + TEKO SUSU + TEMPAT GULA EMPAT PISIN, EMPAT CANGKIR TINGGI TEKO : 20 CM TINGGI TEMPAT GULA : 16 CM 100% ORIGINAL SA...
    3 months ago
  • Piring Delft. - Dijual, piring Belanda/Delft. Diameter 19 cm. Harga @ Rp. 500 ribu.
    6 months ago

Friday, July 8, 2011

Seni Menjual dan Membeli Barang Antik


Barang antik yang paling laku di Indonesia adalah barang yang masa edarnya sebelum tahun 1950, yaitu pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Benda-benda kuno tersebut banyak mengandung kenangan bagi orang mengalami hidup pada masa itu. Suatu masa yang unik, dimana teknologi masih belum maju seperti sekarang. Bahasa Indonesia pun belum terbentuk dengan baik, masih menggunakan bahasa yang lucu dan berliku-liku tata bahasanya.

Barang antik itu disamping unik barangnya, ternyata unik pula cara jual belinya. Tidak seperti barang yang ada di mall atau super market yang jelas harganya, barang antik tidak begitu jelas harganya. Harga yang sejati ada diantara harga yang ditawarkan dan harga penawaran. Misalnya sebuah barang ditawarkan dengan harga 100, dan ditawar 50, maka harga yang sejati ada diantara angka 50 dan 100. Itulah nanti yang akan disepakati oleh mereka berdua setelah selesai negosiasi yang alot.

Apakah alot (ulet) negosiasinya ? Ya tentu saja bagi sebagian besar "orang antik" (penggemar barang antik) memang alot. Kalau tidak alot tidak menarik bagi mereka. Sebuah transaksi yang terlalu cepat dan terlalu mudah, tidak akan berkesan bagi penggemar barang antik. Ibarat bertinju tidak bertemu dengan lawan yang seimbang, terlalu cepat selesainya. Tidak nikmat ?

Sebuah barang akan ditawar ditempat duduk diruang tamu. Bila tidak terjadi kesepakatan, negosiasi akan dilanjutkan di ambang pintu sambil berpamitan pulang. Bila inipun masih belum terjadi kesepakatan rundingan masih akan berlanjut di samping kendaraan sang tamu, entah itu mobil, motor sepeda atau becak boleh saja.

Bila kesepakatan harga masih belum tercapai, tawar menawar akan berlanjut ketika pembeli sudah duduk ditempat duduk kendaraannya. Inipun kalau masih gagal bisa diteruskan ketika kendaraan sudah dihidupkan mesinnya. Biasanya transaksi akan putus bila kendaraan mulai melaju dan rodanya mulai berputar, .... saat itulah harga disepakati ..... hehehe.

Kadangkala pembeli tidak jadi menekan pedal gas kendaraannya, bahkan ia memutar kunci kontak untuk mematikan mesin kendaraannya. Ada yang turun lagi dan masuk rumah pemilik barang untuk mengamati sekali lagi barang yang diminatinya.... sambil menaikkan tawarannya tentu. Ini yang disebut :"Keluar Masuk Mobil".

Dasar barang antik, pembeli dan penjualnya pun antik (Ahita Teguh Susilo).

1 comment: